JURNAL PERCOBAAN 3 "PEMBUATAN ASAM ASETIL SALISILAT (ASPIRIN)
JURNAL PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK II
NAMA : Dewi Mariana Elisabeth Lubis
NIM : A1C118029
Kelas : Reguler B 2018
DOSEN PENGAMPU :
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
PERCOBAAN 3
I.
Judul : Pembuatan Asam
Asetil Salisilat (Aspirin)
II.
Hari, Tanggal : Kamis, 22
Oktober 2020
III.
Tujuan :
Adapun tujuan dari praktikum ini, yaitu :
a.
Dapat memahami cara
pembuatan asam asetil salisilat dari bahan baku asam salisilat dan asam asetat anhidrat
b.
Dapat mengetahui dan
memahami jenis reaksi pembuatan asam salisilat
IV.
Landasan Teori
Menurut Tim Kimia
Organik (2019), Asam salisilat (o-hidroksi asam benzoat) merupakan senyawa
bifungsional, yaitu gugus fungsi hidroksil dan gugus fungsi karboksil. Asam
salisilat ini berfungsi sebaga fenol (hidroksi benzene) dan juga berfungsi
sebaga asam benzoate. Asam salisilat baik dalam bentuk asam maupun bentuk fenol
dapat mengalami reaksi esterifikasi, jika direaksikan dengan anhidrida asam
akan menghasilkan asam asetil salisilat (aspirin). Dan jika direaksikan dengan
methanol (alkohol) akan menghasilkan ester metal salisilat (minyak gandapura).
Reaksinya sebagai berikut:
Aspirin
atau asam asetil salisilat merupakan senyawa derivatif dari asam salisilat.
Aspirin berupa kristal putih dan berbentuk seperti jarum. Pembuatan aspirin
tidak akan dihasilkan produk yang baik jika suasananya berair, karena asam
salisilat yang terbentuk akan terhidrolisa menjadi asam salisilat berair.
Aspirin diperoleh dengan proses asetilasi terhadap asam salisilat dengan
katalisator H2SO4 pekat. Asetilasi adalah terjadinya pergantian atom H pada
gugus –OH dan asam salisilat dengan gugus asetil dari asam asetil anhidrat. Asam
salisilat adalah desalat phenol, oleh karena itu reaksinya adalah asetilasi
destilat phenol. Asetilasi ini tidak melibatkan ikatan C-O yang kuat dari
phenol, tetapi tergantung pada pemakaian, pemisahan ikatan –OH. Jika dipakai
asam karboksilat untuk asetilasi biasanya menghasilkan rendemen rendah. Hasil
yang diperoleh akan lebih baik. Jika digunakan suatu derivat yang lebih reaktif
menghasilkan ester asetat. Nama lain aspirin adalah metil ester asetanol karena
diperoleh dari esterifikasi asam salisilat sehingga merupakan asam asetat dan
fenilsalisilat (Vogel, 1990).
Rekristalisasi
merupakan cara yang paling efektif untuk memurnikan zat – zat organik dalam
bentuk padat salah satunya aspirin. Oleh karena itu teknik ini secara rutin
digunakan untuk pemurnian senyawa hasil sintesis atau hasil isolasi dari bahan
alami. Metode ini sederhana, material padatan ini terlarut dalam pelarut yang
cocok pada suhu tinggi ( pada atau dekat titik didih pelarutnya ) untuk
mendapatkan jumlah larutan jenuh atau dekat jenuh. Ketika larutan panas
perlahan didinginkan, kristal akan mengendap karena kelarutan padatan biasanya
menurun bila suhu diturunkan. Diharapkan bahwa pengotor tidak akan mengkristal
karena konsentrasinya dalam larutan tidak terlalu tinggi untuk mencapai jenuh (Ganiswarna,
1995).
Gambar
1 : Mekanisme Reaksi
Sumber
: https://images.app.goo.gl/UqNxhtmxUKMrdZNE6
Asam
asetil salisilat (aspirin) merupakan salah satu jenis antiinflamasi nonsteroid
(OAINS) yang banyak digunakan pada pengobatan nyeri ringan sampai sedang.
Aspirin dijual secara bebas dan tersebar luas di masyarakat untuk pengobatan
sendiri, maka kemungkinan untuk terjadi keracunan aspirin akan lebih besar.
Aspirin menyebabkan pengelupasan selepitel permukaan dan mengurangi sekresi
mucus dengan mekanisme kerja utama menekan produksi prostaglandin dan
tromboksan. Efek samping penggunaan aspirin terutama terlihat pada traktus
gastrointestinal. Pada dosis biasa, efek aspirin yang paling berbahaya adalah
gangguan gaster oleh adanya iritasi mukosagaster (Nuraeni, 2007).
Aspirin
adalah zat sintetik pertama di dunia dan istilah lainnya adalah Asam Salisilat
(ASA). Obat ini sering digunakan sebagai analgesik untuk menghilangkan atau
meringankan rasa nyeri, sebagai antipiretik untuk mengurangi demam, serta sebagai
anti-inflamasi untuk mengurangi peradangan. Aspirin juga berguna dalam
mengobati penyakit rematik, dan sebagai anti-platelet (untuk mengencerkan darah
dan mencegah pembekuan darah) dalam arteri koroner (jantung) dan di dalam vena
pada kaki dan panggul. Aspirin juga telah digunakan untuk mengatasi anak-anak
yang mengalami Sindrom Bartter, dan juga dalam meningkatkan penutupan Patent
Ductus Arteriosus (PDA), hubungan abnormal antara aorta (arteri utama terhubung
ke jantung) dan arteri pulmonalis (untuk paru-paru) pada bayi baru lahir
(Damanhuri, 2010).
V.
Alat dan Bahan
a. Alat
Adapun alat yang akan
digunakan ialah :
·
Erlenmeyer 100ml
·
Batang pengaduk
·
Gelas kimia 500ml
·
Pipet tetes
·
Corong Buchner
b. Bahan
Adapun bahan yang akan
digunakan ialah :
·
Asam Salisilat
·
Anhidrida asam
·
Asam sulfat pekat
·
Piridin
·
Asetil klorida
·
FeCl3
VI.
Prosedur Kerja
a. Dalam labu Erlenmeyer 100ml, larutkan 10 gram
asam salisilat dalam 7 ml piridin , kemudian ke dalam larutan yang baru dibuat
ini masukkan 7,5 ml asetil klorida sedikit demi sedikit sambil dikocok dan labu
dimasukkan kedalam air es atau air dingin.
b. Hasil reaksi direfluks selama 5 menit dengan
melengkapi labu dengan pendingin air dan dipanaskan diatas penangas air.
c. Bila hasil reaksi sudah dianggap sempurna,
tuangkan secara perlahan sambil diaduk ke dalam sebuah gelas piala yang berisi
300ml air dingin.
d. Ketika terjadi Kristal aspirin atau cairan
seperti minyak dan diaduk sehingga menjadi Kristal putih.
e. Saring Kristal dengan corong Buchner, cuci
dengan air dingin dan keringkan Kristal tersebut. Lalu periksa titik lelehnya.
f. Rekristalisasi : larutkan dengan campuran air
dan asam asetat dengan volume yang sama
g. Untuk menghilangkan warna dapat ditambahkan
karbon aktif dan saring dalam keadaan panas
h. Biarkan filtrate dingn agar Kristal aspirin
terbentuk
i. Untuk mendapatkan Kristal yang lebih bagus,
kristalkan kembali Kristal aspirin ke dalam benzene dan keringkan Kristal aspirinnya
lalu periksa titik lelehnya.
Video terkait praktikum
ini:
Permasalahan ;
1. Pada prosedur penentuan kemurnian asam asetil
saliisilat (aspirin) dengan menggunakan plat TLC, bagaimana peran
Besi(III)Klorida?
2.
Pada pembuatan asam
asetil salisilat (aspirin) ini pada proses pembentukan asam asetil salisilat
atau aspirinnya harus dalam keadaan bebas air. Mengapa tidak bisa dalam keadaan
basah?
3. Menurut anda mengapa pada pembuatan asam asetil
salisilat (aspirin) ini perlu dilakukan penambahan H2SO4?


Saya Zulia Nur Rahma (048) akan menjawab permasalahan no 3.
BalasHapusMenurut saya pada pembuatan asam asetil salisilat (aspirin) ini perlu dilakukan penambahan H2SO4 dikarenakan penambahan asam sulfat ini berguna untuk mengendapkan asam salisilat, dimana yang nantinya asam salisilat ini dimurnikan dengan sublimasi.
Semoga membantu :)
Saya Firda Oetary (A1C118021) akan menjawab permasalahan saudari no 2 ,karena aspirin yang terkena air dapat berubah kembali menjadi asam asetat / anhidrida asetat. Selain itu dalam pencampuran asam salisilat dan anhidrida asetat setra H2SO4 , dan erlenmeyer harus dalam keadaan kering sebab bila basah campuran akan berwarna hitam dan hal ini menandakan bahwa percobaan gagal
BalasHapusTerima kasih
baiklah saya nabilah zahrah (A1C118026) akan mencoba menjawab permasalahan dewi No. 1 yaitu peran Besi(III)Klorida untuk mengidentifikasi larutan dan untuk mengetahui apakah larutan masih mengandung asam salisilat.
BalasHapus