JURNAL PERCOBAAN 4 "Pembuatan Senyawa Organik Ester Metil Salisilat (Minyak Gandapura)"
JURNAL PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK II
NAMA : Dewi Mariana Elisabeth Lubis
NIM : A1C118029
Kelas : Reguler B 2018
DOSEN PENGAMPU :
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
PERCOBAAN 4
I. Judul : Pembuatan Senyawa Organik Ester Metil Salisilat (Minyak Gandapura)
II. Hari/Tanggal : Rabu, 28 Oktober
2019
III. Tujuan :
Adapun
tujuan dari praktikum ini, yaitu :
a.
Dapat
memahami cara pembuatan minyak gandapura secara sintesis dari asam salisilat dan
methanol
b.
Dapat
mengetahui minyak gandapura merupakan ester karboksilat
c.
Dapat
menentukan sifat fisik dan kimia dari minyak gandapura
d.
Dapat
mengetahui jenis reaksi sintesis pembuatan minyak gandapura
IV. Landasan teori :
Reaksi
asam karboksilat dan alcohol yang menghasilkan ester dan air merupakan
esterifikasi. Untuk mendapatkan kesetimbangan maka ditambahkan katalisator asam
kuat seperti asam sulfat. Pada suhu kamar, derajat kesetimbangan reaksi antara
alcohol dengan asam adalah sangat kecil, kesetimbangan dicapai dengan lambat.
Jika reaksi berlangsung disuhu yang terlalu tinggi maka bisa digunakan
pendingin balik (refluks) dan katalisatornya asam kuat, maka reaksi akan
dipercepat dan lebih mudah mencapai kesetimbangan(Tim Kimia Organik,2015).
Reaksi
esterifikasi adalah suatu reaksi antara asam karboksilat dan alcohol membentuk
ester.Turunan asam karaboksilat membentuk ester asam karboksilat. Ester asam
karboksilat ialah suatu senyaawa yang mengandung gugus –CO2R dan R dapat berupa
alkil maupun asil esterifikasi dikatalisis asam dan bersifat dapat baik
(Fesenden,1981).
Laju
esterifikasi asam karboksilat tergantung pada halangan steril dalam alcohol dan
asam karboksilat. Kekuatan asam dari asam karboksilat hanya mempunyai pengaruh
kecil dalam pembentukan ester. Asam salisilat merupakan salah satu bahan kimia
yang cukup penting dalam kehidupan sehari-hari serta mempunyai nilai ekonomis
yang cukup tinggi karena dapat digunakan sebagai bahan intermediat dari
pembuatan obat-obat seperti antiseptic dan analgetik (Supardoni,dkk,2006).
Salah satu
turunan dari asam salisilat adalah metil salisilat. Metil salisilat adalah
cairan kuning kemerahan dengan bau wintergreen. Tidak laarut dalam air tetapi
larut dalam alkohol dan eter. Metil salisilat ini sering digunakan sebagai
bahan farmasi, penyedap rasa pada makanan, minuman, gula-gula, pasta gigi,
antiseptik, parfum dan juga kosmetik. Metil salisilat telah digunakan untuk
pengobatan sakit syaraf, sakit pinggang, radang, selaput dada, dan rematik
bahkan sebagai obat gosok dan balsem. Metil salisilat ini bisa juga menjadi
pelindung bagi tanaman yang menghasilkan minyak. Contohnya metil salisilat
dahulu pernah dihasilkan dari destilasi ranting birchmanis dan tanaman
gandapura. Dan sekarang disintesis dan didapatkan dari esterifikasi asam salisilat
dengan methanol absolute (Irwandi, 2014).
Metil salisilat
adalah cairan bening kemerahan dengan bau Wintergreen. Tidak larut dalam air
tetapi larut dalam alkohol dan eter. Metil salisilat telah digunakan untuk
pengobatan sakit syaraf, sakit pinggang, radang selaput dada, dan rematik.
Metil salisilat adalah komponen utama obat gosok pada minyak angin.Metil
salisilat terkandung dalam minyak gandapura (Gaultheria Fragrantissima) yang merupakan tanaman minyak
astiri yang cukup potensial dan terkandung pada minyak aromatik dari bunga,
daun, dan kulit batang tumbuhan lainnya. Didalam tubuh, metil salisilat di
hidrolisis menjadi asam salisilat yang mempunyai efek serupa dengan aspirin.
Metil salisilat adalah cairan kuning kemerahan dengan bau wintergreen.Tidak
larutdalam air tetapi larut dalam alkohol dan eter.Metil salisilat sering
digunakan sebagai bahan farmasi, penyedap rasa pada makanan, minuman,
gula-gulaan, pasta gigi, antisqeptik dankosmetik serta parfum. Metil salisilat
telah digunakan untuk pengobatan sakit syaraf, sakit pinggang, radang selaput dada dan rematik,
juga sering digunakan sebagai obat gosok dan balsam. Secara teknik metil
salisilat pun digunakan sebagai bahan
pencelup pada fiber polyester, fiber tracetate dan fiber sintetik
lainnya (Firdaus, 2009).
V.
Alat dan Bahan
a.
Alat
·
Labu dasar bulat
500ml
·
Labu destilasi
100ml
·
Termometer
·
Pendingin
(liebig)
·
Corong Pisah
·
Erlenmeyer 200ml
·
Pipa Bengkok
b.
Bahan
·
28 gr Asam
Salisilat
·
Natrium
Bikarbonat
·
Magnesium Sulfat
Anhidrat
·
8 ml Asam Sulfat
Peka
·
81 ml Methanol
VI.
Prosedur Kerja
Adapun langkah kerja dari percobaan kali ini adalah:
1.
Dimasukkan 28 gr
asam salisilat, 81 methanol, dan 8ml asam sulfat pekat ke dalam labu dasar
bulat 500ml.
2.
Dikocok campuran
larutan tersebut. Lengkapi labu dengan pendingin air.
3.
Direfluks selama
1,5 jam dan biarkan campuran menjadi dingin.
4.
Dirubah posisi
pendingin tegak menjadi miring untuk mendestilasi sisa methanol dengan
memanaskan di atas penangas air, hingga methanol habis terdestilasi
5.
Dibiarkan
campuran larutan tersebut dingin.
6.
Dituangkan
campuran larutan dari labu kedalam corong pisah, lalu dicampur dengan 250ml
aquades.
7.
Dikocok
kuat-kuat larutan tersebut menggunakan corong pisah hingga terbentuk dua
lapisan zat cair.
8.
Dipisahkan kedua
lapisan tersebut, lapisan ester (lapisan bawah) diairi ke dalam erlenmeyer.
9.
Ditambahkan
larutan jenuh dari NaHCO3 sampai bebas asam, lalu ditambahkan kembali dengan
anhidrida magnesium sulfat untuk mengeringkan ester salisilat selama 30 menit.
10. Disaring dan filtrat yang terbentuk ditampung ke
dalam labu destilasi, kemudian destilasi di atas penangas air.
11. Dicatat temperatur pada waktu destilat ditampung.
Bila temperatur masih jauh dibawah titik didih metil salisilat 115˚C, maka
murnikan kembali pada metil salisilat yang ditampung dengan mendestilasi
kembali.
Video terkait praktikum : https://youtu.be/Nu2Excsv4zE
Permasalahan :
1) Pada percobaan ini pun terdapat prosedur pembentukan
dua lapisan zat cair menggunakan corong pisah, ini diancurkan untuk mengocok
kuat-kuat. Menurut anda mengapa kita harus mengocoknya dengan kuat, dimana yang
kita tahu cara menggunakan corong pisah hanya digoyang-goyangkan saja. Lalu
mengapa kita harus mengocoknya dengan kuat? Apakah jika tidak mengocok
kuat-kuat dua lapisan zat cairnya tidak terbentuk?
2) Mengapa pemisahan larutan destilat
harus dilakukan dalam keadaan bebas asam?
3) Pada praktikum kali ini setelah terbentuk dua
lapisan zat cair, kita melakukan pemisahan larutan dimana lapisan bawah adalah
larutan ester yang kemudian kita alirkan atau masukkan ke dalam erlenmeyer dan
ditambahkan larutan jenuh NaHCO3 sampai bebas asam. Disini saya masih bingung
dengan banyaknya penambahan larutan jenuh NaHCO3 ini, menurut anda berapa
banyak NaHCO3 yang harus kita tambahkan?



Baiklah perkenalkan nama saya Sandi 041,disini saya ingin mencoba menjawab permasalahan nomor 1.menurut saya dari pada penggunaan corong pisah itu memang dikocok dengan kuat seperti dari literatur yang saya baca (Untuk memakai corong ini, campuran dan dua fase pelarut dimasukkan ke dalam corong dari atas dengan corong keran ditutup. Corong ini kemudian ditutup dan digoyang dengan kuat untuk membuat dua fase larutan tercampur ).Terimakasih
BalasHapusBaiklah saya Khusnul Khotimah (039) akan mencoba menjawab permaslahan no.3
BalasHapusAdapun banyaknya NaHCO3 yang ditambahkan sesuai kondisi. Dimana kondisi yang terjadi yakni saat larutan tersebut bersifat bebas asam artinya larutan tidak lagi mengandung senyawa asam
Terimakasih :)
Baiklah saya Firda Oetary (021) akan mencoba menjawab permasalahan saudari no 2, ini bertujuan agar hasil destilasi nya itu lebih murni.
BalasHapusTerima kasih